Tampilkan postingan dengan label Ngobrol Pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngobrol Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Agustus 2016

Neuron Cermin

Neuron Cermin
(Sistem Saraf Kepekaan)

Lebih baik mana memiliki satu sahabat atau seribu teman?
Lebih baik mengatakan kebenaran meskipun itu pahit atau menutupinya dengan kebohongan demi menjaga perasaan?
Jika saya menjadi kamu, saya akan berprinsip lebih baik berteman dengan seribu orang dan mengatakan kebenaran yang pahit, karena hanya mereka yang menerima pahitnya kebenaran yang layak dijadikan sahabat.
            Yuk simak hal seputar Neuron Cermin.
Pada suatu ketika, saya merencanakan perjalanan kereta api dari Yogyaarta ke Bandung, muncullah pikiran terasing di dalam diri saya, yang tidak megenal siapapun di dalam kereta itu. Singkat cerita saya mendengar pekikan jauh di belakang saya, dari ujung satunya gerbong kereta itu. Spontan, punggung saya menghadap ke arah sumber jeritan itu. Namun, saya berhadapan langsung dengan seorang pria yang wajahnya terlihat agak cemas.
Pikiran saya berkejaran untuk memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang andaikan ada yang harus saya perbuat. Apakah itu perkelahian? Apakah ada orang yang mengamuk di gerbong sebelah? Atau apakah ada orang yang terjatuh dari gerbong? Atau jeritan itu sekedar jeritan senang, barangkali sekelompok remaja sedang kegirangan? Semua itu menjadi pertanyaan besar dalam pikiran saya.
Jawaban dari pertanyaan besar itu saya dapatkan dengan cepat dari wajah pria yang bisa melihat apa yang terjadi; kecemasan segera mereda, ia menjadi tenang dan kembali duduk menyeduh minumannya. Saya pun tiba-tiba menjadi rileks ketika melihat pria itu kembali duduk dengan wajah tenang.
Dalam saat-saat seperti ketika kecemasan melanda saya dengan tiba-tiba di dalam kereta, secara naluriah kita akan memperhatikan wajah orang-orang di sekita kita, wajah pria pertama yang saya lihat tadi menunjukkan kecemasan, karena dia juga tidak mengetahui penyebab teriakan tersebut, dan kamipun menjadi cemas. Disisi lain setelah saya mengarahkan pandangan ke pria yang mengetahui penyebab suata itu, dengan wajahnya yang rileks dan kembali duduk, membuat saya ikut rileks dengan anggapan tidak ada bahaya yang terjadi.
Penjelasan dari cerita diatas, pada zaman prasejarah, sekelompok manusia purba secara bersama-sama tentu memiliki lebih banyak mata dan telinga daripada seorang individu dan hal ini memungkinkan mereka memiliki tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi dibanding seorang individu sendirian. Dalam bahasa yang mudah dimengerti, melihat seseorang yang menunjukkan mimik perasaannya, bisa membuat kita tersedot masuk ke dalam perasaannya.
Contoh lainnya, ketika seseorang yang senyum dengan anda, secara spontan anda juga akan senyum bukan? Ketika seseorang melihat anda dengan penglihatan sinis, secara spontan anda akan mengkerutkan dahi anda dan merasa tidak senang dengan orang itu bukan? Itulah yang dikatakan sebagai neuron cermin (Giacomo Rizzolatti,ilmuan Italia dalam bidang saraf). Neuron cermin memantulkan kembali tindakan yang kita lihat pada orang lain, membuat kita meniru tindakan atau terdorong untuk melakukan hal itu. Neuro cermin mengingatkan saya kepada pepatah lama “Bila engkau tersenyum, semua orang tersenyum kepadamu”.
Neuron cermin teraktifkan begitu kita mengamati orang lain, misalnya menggaruk atau mengusap air mata. Neuron cermin membuat emosi menular, membiarkan perasaan-perasaan yang kita saksikan mengalir melalui diri kita, membantu kita menjadi selaras dan mengikuti apa yang sedang terjadi.
Keterampilan sosial bergantung pada neuron cermin. Orang yang memiliki neuron cermin yang baik, setidaknya dia akan bersifat luwes, peka terhadap maksud dan tujuan orang lain (yah meskipun sering di php  sih), pendengar yang baik (meskipun dia merasakan kebosanan, tetapi mencoba bertahan dalam kebosanan tersebut), asyik diajak ngobrol, penyayang dan mudah bergaul. Biasanya orang ekstrovert akan lebih mudah mengendalikan dan mengarahkan neuron cerminnya dalam berinteraksi.
Jadi Guys, Semuanya ada ditangan anda.
Selamat berproses menjadi Bunglon Sosial


Sabtu, 13 Agustus 2016

Ulama VS Gelar Agama

Oleh : Sulessana
(Pecinta Ngbrol Pemikiran)

Nabi Muhammad SAW bersabda, “ Seburuk-buruk ulama adalah yang mengunjungi penguasa, dan sebaik-baik penguasa adalah penguasa yang mengunjungi ulama”. Berbahagialah seorang penguasa yang berada di depan pintu orang miskin, dan celakalah orang miskin yang berada di depan gerbang penguasa.
Sekilas, hadits Nabi itu akan bermakna bahwa tidak layak bagi seorang ulama untuk mengunjungi pemerintah. Perbuatan seperti itu membuat buruk citra ulama. Akan tetapi, pemaknaan hadits tersebut tidak sedangkal pemikiran manusia, maksud dari mengunjungi diatas dapat diartikan sebuah perbuatan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Sebuah perbuatan yang dilakukan agar mendapat penghidupan, kebahagiaan, hadiah bahkan kemudahan dari penguasa.
Mengapa kita memakai konteks ulama untuk menunjukkan tindakan KKN yang tidak terpuji itu? Kita ketahui bahwa di Indonesia merupakan hal yang mudah untuk mendapat gelar Ustads, Kiai bahkan Ulama. Di kampung saya sendiri, cukup menjadi imam sholat berjamaah sehari atau seminggu, atau memberi ceramah ketika bulan ramadhan, atau khutbah jumat, kita sudah dipanggil ustads oleh orang-orang di lingkungan tersebut.
Ulama identik dengan keimanan, ketaqwaan, kebijaksanaan dan kharomah. Tetapi mengapa kita masih sering melihat pria berjubah dan bersurban yang ikut partai politik, berbisnis gelap, menggunakan gelar agamanya untuk mendapatkan banyak pengikut?. Hal-hal yang seperti inilah yang ditakutkan sebagai manusia yang dangkal pemahaman. Kita sering terjebak oleh penampilan, hingga lupa akan bahasa logika, kita terjebak dalam kekaguman hingga lupa bahasa hati. Kita masih sering melihat seseorang dari penampilan dibanding perilaku kesehariannya.
Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Sebuah harta dan tahta barangkali terlihat menggiurkan untuk dimiliki, membuat hidup bahagia dan tentram, tetapi sebenanrnya malah membuat hidup terpuruk dan berada dalam kenistaan. Apabila segala sesuatu adalah sebagaimana tampaknya, Nabi Muhammad tidak akan memperingatkan umatnya dengan oeringatan yang keras dengan sabdanya “Tunjukkan kepadaku suaut hal sebagaimana adanya”. Engkau melihat suaut hal menjadi tampak indah padahal kenyatannya buruk; engkau melihat suaut hal tampak buruk padahal kenyatannya indah.
Jika ulama saja melakukan perbuatan KKN, apalagi kita sebagai manusia tanpa gelar keagamaan. Jika ulama KKN kita mungkin KKNKKN. Jadi wajar jika manusia berlomba-lomba untuk menjadi penguasa yang siap disogok. Ulama buruk adalah mereka yang selalu menganggap bahwa dirinya adalah tamu dan penguasa adalah tuan rumah.
Tetapi berbeda halnya ketika seorang Ulama yang telah mengenakan jubah keilmuannya, dia melakukanbukan demi penguasa, melainkan pertama dan yang paling utama karena Allah SWT. Ketika seorang ulama berperilaku dan berjalan sepanjang jalur kebenaran, sebagaimana yang semestinya dilakukan oleh seorang ulama, dan tidak berperilaku untuk alasan lain, maka semua orang akan berdiri hormat kepadanya. Semua orang akan mendapat limpahan cahaya yang memantul darinya. Segala perilaku ulama itu selalu diatur oleh nalar dan naluri kebaikan. Dia hanya bisa hidup dalam kebaikan sebagaimana ikan yang hanya bisa hidup di dalam air.
Ulama yang seperti inilah dengan segala kebijakan, keimanan dan ketaqwaannya.yang ketika mengunjungi penguasa maka dialah yang bertindak sebagai tuan rumah. Ibaratkan sebuah matahari yang mengubah bebatuan menjadi rubik dan permata carnelian, mengubah gunung-gunung di bumi menjadi tambang tembaga, emas, perak dan timah, membuat bui hijau dan segar, menghasilkan bermacam-macam buah, sayuran, dan tanaman, Ibarat Air hujan di tengah kemarau. Ulama seperti inilah adalah ulama yang selalu bermanffat bagi masyarakat, yang membuat penguasa selalu menjadi tamunya.
Selama kita mengarungi kehidupan, kita akan selalu dihadapkan oleh dua pilihan, menjadi orang baik atau orang buruk. Gelar agama hanya pemberian masyarakat bagi mereka yang berhak untuk menyandangnya, dan gelar agama bukan batasan untuk melakukan segala kebaikan dan bermanfaat bagi manusia lainnya.

Referensi Bacaan :

Jalaluddin Rumi, Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya (Aforisme-Aforisme Sifistik Jalaluddin Rumi,  Penerj. Anwar Holid, (Bandung : Pustaka Hidayah, 2000).

Refleksi Masa Depan

Oleh : Sulessana
(Peneliti Psikologi)

Sebagai manusia yang memiliki identitas, entah itu dimasa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang, terkadang kita terlalu terpesona dengan identitas tersebut. Kita terlalu membanggakan kejayaan masa lalu kita, dan menganggapnya akan selalu menjadi masa kejayaan kita, entah itu kita alami sekarang ataupun akan kita alami dimasa mendatang. Sebagian dari kita mungkin begitu sering menjadikan sejarah kejayaan kita sebagai kebanggaan, hingga terkadang kita larut dalam nostalgia masa lalu dan melupakan bahwa masa depan itu adalah ketidakpastian. Misalnya saja, dulu kita pernah menjadi peringkat pertama di SD, peringkat itu kita bawah dan kenang hingga mencapai usia SMP. Lalu di SMP kita mendapat peringkat 2, peringkat itupun kita bawah dan kenang hingga SMA. Lalu di SMA kita mendapat peringkat 3, masih saja kita menjadikan hal itu sebagai kebanggaan dan terkadang membuat kita begitu dilemana dalam menentukan dimana kita akan kuliah.
Dulu kamu mungkin suka dengan laki-laki yang ganteng, putih dan cool, tapi sekarang kamu malah mencari yang setia, perhatian, pengertian dan tidak munutup kemungkinan besok kamu mendahulukan yang bertanggung jawab. Proses membuat kita berubah pikiran, dan lebih realitas melihat kehidupan. Dulu kamu dikagumi bisa saja sekarang kamu mengagumi. Dulu kamu yang paling cantik, bisa saja sekarang kamu yang paling jelek. Dulu kamu sering menolak orang lain, bisa saja sekarang malah tidak ada yang bisa kamu tolak. Dunia itu selalu berputar sesuai keadilan Tuhan.
Semakin banyak kenangan masa lalu yang kita bawah dalam pengambilan keputusan kita, akan semakin dilemalah kita, bahkan bisa menjadikan kita sosok yang angkuh dan sombong. Belum lagi jika kita terlahir dalam rahim orang yang kaya raya, atau dari rahim keturunan raja atau bangsawan. Masa lalu seharusnya tidak dilupakan, sesuai dengan yang dikatana Bung Karno “JAS MERAH” jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Akan tetapi, kalimat tersebut tidak selamanya relevan dengan perkembangan zaman. Bisa saja dulu Bung Karno berbicara seperti itu agar anak cucunya kelak selalu mengingat perjuangan para leluhurnya.
Kenyataan yang terjadi pada individu abad 21, malah menjadikan masa lalu itu sebagai identitas untuk kesombongan, membuat mereka terbuai dengannya, hingga terkadang mereka berpikir bahwa saya jauh lebih baik dari orang lain berdasarkan masa lalu.
Kawan, sekarang pikirkanlah, apakah orang yang disekeliling anda adalah orang yang sama? Apakah orang yang pernah anda taklukkan dimasa lalu adalah orang yang akan anda taklukkan di masa depan? Apakah keberhasilan anda dimasa lalu adalah tujuan anda di masa depan? Apakah target anda dimasa lalu adalah sama dengan target anda dimasa depan? Lantas jika tidak, buat apa anda membanggakan masa lalu anda? Hay kawan, masih banyak rintangan masa depan yang harus kita taklukkan, jangan sampai kita terlena dengan kejayaan masa lalu. Begitupula dengan kamu yang memiliki masa lalu yang suram, apakah kesuraman masa lalumu adalah kesuraman masa depanmu? Apakah sakit hatimu dimasa lalu adalah sakit hatimu dimasa depan? Apakah orang yang dulunya menyakitimu adalah orang yang akan meyakitimu dimasa depan? BUKAN KAWAN.
Saya lebih sependapat jika dikatakan belajarlah dari masa lalumu, dan bijaksanalah dengan masa depanmu. Masa lalu memang bukan untuk dilupakan, akan tetapi dikenang dan dijadikan pembelajran. Kamu yang sekarang bukanlah kamu yang dulu.
Periode masa sekarang kita merupakan periode untuk kita menanam bibit-bibit harapan masa depan. Sekarang saatnya kita untuk melangkah dengan harapan, dan membuktikan dengan proses.
Sebelum menutup bacaan ini, izinkan saya menyampaikan sebuah kalimat yang membuat saja semangat dalam berproses.
PERTIMBANGKAN TUJUANMU SEBELUM KAMU MEMUTUSKAN UNTUK KOMITMEN
INGATLAH KOMITMENMU SEBELUM KAMU MEMUTUSKAN UNTUK MELANGKAH
DAN INGATLAH PROSES LANGKAHMU SEBELUM KAMU MEMUTUSKAN UNTUK BERHENTI

MULAILAH MENGERJAKAN MASA DEPANMU.

Autisme Sosial

AUTISME SOSIAL
(Saat dunia maya memperbudakmu, maka saat itu hidupmu penuh dengan kepalsuan)
Oleh    : Sulessana
Disaat sains menyingkapkan betapa pentingnya hubungan positif dengan orang lain, tampaknya relasi antarmanusia justru sedang berada dalam masalah. Ketika teknologi menawarkan lebih banyak variasi komunikasi yang namanya saja komunikasi namun sesungguhnya adalah isolasi, muncullah berbagai hal yang tak diketahui dalam cara manusia berhubungan dan memutuskan hubungan. Teknologi yang merayap diam-diam dan mau tak mau terjadi berlangsung begitu halus dan tak kasatmata sehingga tak seorangpun pernah menghitung biaya sosial dan emosinya.
Pernahkah anda merasa ilfil ketika mengajak seorang teman berkomunikasi namun perhatiannya pada gadgetnya? Ataukan anda sendiri yang menjadi manusia gadget? Saya mengajak anda membandingkan intensitas penggunaan gadget dengan segala sesuatu yang anda miliki. Pertama aktivitas anda diawali dengan bangun tidur. Dengan apakah anda melihat waktu ketika anda bangun? Yaaa jawabannya adalah gadget.
Autisme dalam pengertian psikologi adalah kecendrungan untuk hidup dalam dunianya sendiri tanpa menghiraukan lingkungan sekitar. Autisme merupakan sebuah penyakit psikis yang berasal dari kepribadian. Terlepas dari konteks kepribadian, autisme penyakit sosial yang ruang lingkupnya jauh lebih luas dibanding autisme dari sisi psikis.
Autisme dalam konteks sosial diasumsikan sebagai manusia yang sibuk dengan dunia maya dan mengacuhkan dunia nyatanya. Penyakit ini diakibatkan oleh teknologi, membuat mereka yang jauh menjadi dekat dalam angan-angan, dan membuat yang dekat menjadi jauh dalam kenyataan. Sepertinya halnya televisi yang memungkinkan jutaan orang mendengarkan lawakan yang sama pada waktu yang sama, tetapi tetap merasa kesepian. Seberapa pun bagus dan nyatanya emoticon di sosial media namun anda tak akan bisa mendapatkan pelukan dan ciuman di internet.
John Cacioppo dan Gary Berntson pada tahun 1990-an menawarkan sebuah perspektif baru yang dikenal sebagai Ilmu saraf sosial. Dewasa ini, Cacioppo menambahkan, kita bisa memahami bagaimana otak menggerakkan perilaku sosial dan pada gilirannya bagaimana dunia sosial kita memengaruhi otak dan biologi kita.
Cerdas secara sosial adalah konsep yang ditawarkan penulis dalam mengatasi autisme sosial.

ILMU SARAF SOSIAL
Sekelompok neuron yang baru saja ditemukan, sel spindel, bertindak paling cepat, memandu keputusan sosial yang secepat kilat bagi kita dan telah terbukti lebih banyak terdapat di otak manusia daripada spesies apa pun.
Suatu variases sel-sel otak yang berbeda, yaitu neuron-neuron cermin, merasakan gerakan yang akan dilakukan orang lain dan merasakan perasaan mereka serta secara instan mempersiapkan kita untuk meniru gerakan itu dan merasakan bersama mereka.
Ketika mata seorang perempuan yang menarik hati seorang pria melihat langsungkepada pria tersebut, otak pria itu mengeluarkan zat kimia dopamin yang membangkitkan rasa senang-namun hal ini tidak terjadi ketika perempuan ini menoleh ke arah lain.
Ilmu saraf sosial pertama kali digunakan pada tahun 1990-an oleh psikolog John Cacioppo dan Gary Berntson, yang kala itu adalah perintis-perintis yang berjuang sendiri demi ilmu yang baru dan berani ini. dewasa ini, Cacioppo menambahkan, kita bisa memahami bagaimana otak menggerakkan perilaku sosial dan pada gilirannya bagaimana dunia sosial kita memengaruhi otak dan biologi kita. Beberapa penelitian awal Cacioppo mengungkapkan adanya kaitan antara terlibatnya seseorang dalam relasi negatif dan lonjakan hormon stres ke tingkat yang merusak gen-gen tertentu yang mengendalikansel-sel pelawan virus. Bagian yang hilang dalam hubungan itu adalah jalan saraf yang bisa mengubah masalah dalam hubungan dengan orang lain menjadi konsekuensi-konsekuensi biologis, hal inilah salah satu fokus ilmu saraf sosial.


Selasa, 26 Juli 2016

Bergerak Tanpa Makna

BERGERAK TANPA MAKNA
 Oleh : Sulessana
Jika hati tak lagi bergejolak, kapan keadilan itu kujumpai
Jika hati hanya diam, jika mulut tak lagi bersuara,  jika suara tak lagi terdengar, dari mana kan kudengar negeriku menumbuhkan konglomerat dan mengikis habis kaum melarat.
Jika mata tak lagi  tertutup, bagaimana kumemimpikan negeriku yang begitu subur?
Sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan gandum
Tapi juga pabrik, tempat rekreasi dan gedung-gedung pencakar langit. Burung-burung indah piaraan orang-orang kaya dunia berasal dari hutanku. Ikan-ikan pilihan yang mereka santap bermula dari lautku, emas perak dan perhiasan mereka digali dari tambangku, air bersih yang mereka minum bersumber dari keringatku.
Jika kata tak lagi bermakna, bagaiamana kumelukiskan kemakmuran negeriku?
Rakyat-rakyat kecil menyumbang negara tanpa imbalan, hukum tercipta atas kesepakatan orang-orang berduit, tikus dan kucing dengan asyik berkolusi.
Apakah ini kebodohan? Apakah ini keadilan? Atau apakah ini sebuah takdir?
Negeri tempat orang biadab tersenyum, para tikus busuk berkompromi, dan dipenuhi orang pintar yang krisis akan iman....ahahahaha
Sekarang kita tersenyum, besok kita tertawa, tapi lusa kita menangis, meratapi negeri yang krisis akan moral.
Jangan, jangan, jangan biarkan indonesia tanpa makna.





Minggu, 22 Mei 2016

Cengkraman Media Bagi Identitas dan Solidaritasku

CENGKRAMAN MEDIA BAGI IDENTITAS DAN SOLIDARITASKU
(Memiliki Media, Berarti Memiliki Masyarakat)
Oleh    : Ahmad Awaluddin Aras
            Manusia adalah tanda adanya kehidupan, kehidupan adalah tanda adanya interaksi, dan interaksi adalah tanda adanya komunikasi. Manusia dalam konteks masyarakat merupakan makhluk hidup yang bertanggung jawab atas dirinya. Akan tetapi, manusia tidak sepenuhnya bisa merealisasikan keinginannya, sehingga untuk saling melengkapi keinginan manusia satu dengan yang lainnya dikenalkah istilah kerjasama. Kerjasama menciptakan ketergantungan antara individu yang menjadi konstruk saling membutuhkan. Adanya ketergantungan ini membuat individu harus selalu hidup berdampingan dengan individu tempatnya bergantung. Individu dengan individu yang selalu saling tergantung menciptakan pola pikir yang sama, misi yang sejalan, saling mengerti akan kebutuhan individu lainnya, menekankan pentingnya nilai-nilai, emosi, partisipasi, peduli dan bangga sebagai anggota kelompok terhadap kelompoknya. Kesamaan seperti inilah yang disebut sebagai identitas sosial.
            Setiap kelompok yang memiliki identitas, mencoba untuk mempertahankan dan menjaga eksistensi identitas tersebut. Mulai dari doktrinitas setiap kelompok, terciptanya pemahaman yang sejalan, persaingan individu dengan individu lainnya di dalam kelompok, hingga persaingan antara kelompok. Persaingan individu dengan individu di dalam suatu kelompok terjadi karena adanya kepentingan posisi sosial. Apabila salah satu posisi sosial berubah maka akan merubah salah satu aspek identitas sosial seperti isi identitas, larat belakang identitas, definisi legitimasi perilaku dan pemberdayaan (Drury & Reicher, 2000, Drury & Reicher, 2004). Adapun Persaingan antara kelompok, jelas akan menimbulkan wabah radikalisme. Setiap kelompok selain mempertahankan identitasnya, juga melakukan ekspansi doktrinitas bagi kelompok lain, yang dampak negatifnya berupa konflik antara kelompok. Semakin sering konflik terjadi di dalam kelompok, semakin solidlah kelompok tersebut. Kelompok yang solid kemudian bermetamorfosa menjadi kelompok besar dan kuat. Semakin kuat dan besar suatu kelompok, semakin mudah pula mendapatkan pengikut.
            Melihat Indonesia sekarang, tidak bisa dipungkiri begitu maraknya kelompok-kelompok yang mengatas namakan agama. Di islam sendiri dikenal adanya kelompok Muslim Moderat, Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Forum Umat Islam, Front Pembela Islam, Hizbut Tahrir Indonesia, Persatuan Islam, Pemuda Muslim Indonesia dan lain sebagainya. Belum lagi dikalangan agama kristen yang juga dikenal adanya kelompok Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Kristen Bersatu (Gekribnis), Forum Komunitas Kristiani Indonesia (Fokkrindo), dan Ketua GAMKI. Kelompok besar yang salah persepsi inilah yang merupakan cikal bakal terjadinya konflik yang berkesinambungan. Ketika salah satu memulai membangunkan kelompok yang lainnya, maka semua kelompok akan merasakan gangguan tersebut, dan menaikkan statusnya menjadi siaga.
            Salah satu aspek yang menonjol dalam dinamika desentralisasi di Indonesia ini adalah konflik yang berakar pada identitas kelompok. Di Indonesia konflik antara kelompok banyak yang berawal dari pandangan esensialis tentang identitas, yaitu pandangan yang menganggap bahwa konflik itu merebak karena “diakibatkan” atau dipengaruhi oleh identitas kelompok yang berbeda. Beberapa artikel menyebutkan  bahwa konflik identitas etnis dan religius justru muncul dari perbedaan penafsiran tentang makna label sosial (Thung) dan garis kekerabatan (Bartels, Warta), atau dari penafsiran tentang posisi seseorang atau kelompok dalam struktur adat (F. Dan K. Von Benda-Beckmann, Ramstedt).
            Ada beberapa implikasi sosial yang inheren dalam pandangan opini publik. Satu diantaranya menunjuk pada peran yang dimainkan oleh media masa dalam proses opini. Artinya, bahwa media membantu menciptakan opini publik yang tidak semata-mata dengan mengatakan kepada rakyat apa yang harus dipikirkan (fungsi agenda setting). Akan tetapi juga ada arti lain, yaitu bahwa media memang mengatakan apa yang harus dipikirkan. Sejauh orang masih mengandalkan media yang mana pun, bagi sampling personal mereka tentang apa yang dipikirkan oleh orang lain, media menyajikan gambaran tentang konsensus sosial. Media telah memainkan peran sebagai second hand reality. Media juga telah menjadi guru dan menuntun kita untuk untuk mendefinisikan situasi sesuai dengan sajiannya. Dan anehnya pun kita berlaku seperti murid yang baik, dalam mengambil keputusan kita tidak lagi mendasarkan pada realitas sesungguhnya, tapi pada makna yang diberikan oleh media tersebut. Di sini terlihat jelas bahwa media sesungguhnya adalah sebuah konstruksi atas realita.
Provokasi atau solusi konflik menjadi sajian utama media massa umum di seluruh dunia karena isu ini memang menarik dan mengundang banyak viewer  untuk memperhatikannya. Isi media massa tak lepas dari berita-berita tentang konflik, terutama tentang kekerasan agama. Konstruk bad news is a good news tampaknya memang sudah melekat dalam pekerjaan setiap wartawan. Karena konflik adalah termasuk salah satu berita buruk juga yang kerap terjadi di hampir seluruh penjuru dunia, maka berita-berita seperti inilah yang sering menjadi headline.
Sebagai penulis saya sering bertanya, apakah identitas individu di dalam suatu kelompok bisa terus terjaga esensinya? Padahal tidak bisa dipungkiri bahwa identitas tersebutlah yang berpengaruh dalam membentuk kepribadian di dalam diri individu. Tanpa identitas dalam suatu kelompok, ibarat berjalan di kegelapan tanpa cahaya. Hal ini juga senada dengan beberapa kajian psikologi yang mengungkapkan bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang. Dari pembahasan diatas, dapat kita sepakati secara bersama bahwa identitas harus tetap terjaga, namun bukan berarti radikal terhadap identitas tersebut. Salah satu cara mengenali identitas antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainya adalah dengan menggunakan media. Media sangat efektif dalam berbagi informasi terhadap kelompok, sekaligus sangat berpengaruh terhadap munculnya stigma negatif antara kelompok.
            Peran media dewasa ini berkembang dengan pesat. Media tidak hanya sebagai kanal pembawa informasi, tetapi sudah berkembang sebagai pusat informasi itu sendiri. Perkembangan media di era teknologi informasi ini memungkinkan semua lapisan masyarakat mengakses informasi secara bebas dan sangat terbuka. Kondisi demikian memungkinkan pemahaman yang berbeda dari masing-masing komunikan tersebut. Media sebagai komunikator mendistorsi substansi dari sebuah informasi yang memungkinkan misinterpretasi terjadi. Jika kesalahpahaman mencerna sebuah informasi terjadi dalam sebuah masyarakat yang komunal, maka potensi terjadinya konflik semakin besar.
Ilmu komunikasi dalam kajian media mengenal sebuah pendekatan penyajian realitas yang disebut analisis framing. Analisis framing merupakan metode penyajian realitas dimana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan pada aspek tertentu dan untuk mengetahui bagaimana perspektif yang digunakan wartawan ketika menseleksi isu dan menulis berita. Perspektif itu akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan, dan hendak dibawa kemana berita itu (Nugroho et all., 1999, hal. 21).
Analisis framing digunakan untuk mengetahui bagaimana realitas sosial dibingkai oleh media. Pembingkaian tersebut merupakan proses konstruksi yang berarti realitas sosial dipahami dan dimaknai dengan bentukan dan makna tertentu. Kemampuan media untuk melakukan analisis framing  menjadi asumsi dasar bahwa media kurang atau mampu berperan sebagai sarana pencegah konflik dan kekerasan. Inilah sesungguhnya sebuah realitas politik, bagaimana media membangun, menyuguhkan, mempertahankan, dan mereproduksi, suatu peristiwa kepada pembacanya.
Robert Entman melihat framing dalam dua dimensi besar : seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas atau isu( Eriyanto, 2002). Seleksi isu berkaitan dengan pemilihan fakta. Dari realitas yang kompleks dan beragam, aspek mana yang di seleksi untuk ditampilkan. Entman merumuskan analisis Framing kedalam bentuk model sebagai berikut :
a.       Definisi Masalah (Defening Problem)
Bagaimana suatu peristiwa dilihat? sebagai apa? atau sebagai masalah apa?
b.      Memperkirakan Sumber Masalah (Diagnose Causes)
Peristiwa itu dilihat disebabkan oleh apa? Apa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah? Siapa aktor yang dianggap sebagai penyebab masalah.
c.       Membuat Keputusan Moral (Make Moral Judgment)
Nilai moral apa yang dijadikan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang digunakan untuk melegitimasi suatu tindakan?
d.      Menekankan Penyelesaian (Treatment Recomendation/ Suggest Remedies)
Penyelesaian apa yang ditawarkan media untuk mengetahui masalah itu?
Faktor pembaca pun penting di sini karena tidak semua pembaca media di Indonesia memiliki tingkat intelegensia dan kesadaran moral yang tinggi untuk memahami secara komprehensif sebuah berita. Prinsip “telan bulat-bulat” lebih banyak dikedepankan, daripada mencoba untuk cover all sides, mudah terprovokasi, terhasut, close minded  dan masih banyak sikap immature lainnya yang harus dirubah oleh para pembaca di Indonesia agar konflik tidak timbul, walaupun sudah dipicu oleh pemberitaan media yang dekonstruktif dan parsial. Walaupun begitu, dengan perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesat pada era ini, pembaca di Indonesia saya pikir sudah cukup dewasa untuk bisa memilah-milahin formasi mana yang kredibel dan mana yang tidak.
Berdasarkan konsep tersebut, masyarakat seharusnya bisa lebih jelih memilih dan memilah informasi. Setiap konsumsi publik tidak sepenuhnya benar, bisa saja merupakan pesanan untuk kepentingan pribadi baik dalam konteks politik, ekonomi maupun provokasi. Sumber media, hulunya bermula dari yang namanya opini pribadi, dalam hal ini opini wartawan atau media yang opini itu dilepas ke publik.
Langkah yang seharusnya dilakukan masyarakat dalam memilih dan memilah berita antara lain :
Pertama, masyarakat ketika melihat suatu pemberitaan, terlebih dahulu harus melihat latar belakang timbulnya pemberitaan tersebut, apakah berita yang ditampilkan itu mengandung provokasi atau tidak, apakah berita itu mendukung salah satu kelompok yang sedang berkonflik, apakah berita itu merupakan pesanan. Salah satu cara membedakan hal tersebut adalah dengan melihat kapan berita itu diterbitkan. Contoh konkrit yang pernah kita lihat secara bersama adalah pemberitaan kasus bom bunuh diri (terorisme) yang bertepatan dengan perpenjangan kontrak freeport.
Kedua, masyarakat dalam mencerna berita harus lebih jelih melihat siapa aktor atau kelompok yang menyebabkan berita tersebut. Jangan sampai berita tersebut mengkonstruk pola pikir kita yang bisa mengarahkan pandangan negatif terhadap kelompok atau aktor tertentu. Misalnya kasus mantan pimpinan KPK, Abraham Samad, yang disatu sisi amanah dalam mengerjakan tanggung jawabnya, menangkap banyak koruptor, akan tetapi disisi lain beberapa media mengkonstruk masyrakat agar berpandangan negatif terhadap pimpinan KPK tersebut dengan memunculkan berbagai kesalahannya. Dengan begitu, pimpinan yang tegas ini akan lebih mudah digantikan, dan para koruptor dengan mudah pula merajalela dan duduk disinggasananya sambil tersenyum manis.
Adapun  langkah konkrit yang seharusnya dilakukan wartawan dalam menyebarkan informasi, serta peranan media dalam mencegah konflik antara lain;
Pertama, seorang wartawan (media) jangan sampai mencampuradukkan antara fakta, opini, dan harapan. Jangan mengatas namakan suatu kelompok untuk mendukung isu pribadi, jangan menggunakan label kami, demi memperlancar kepentingan saya.
Kedua, bahasa dalam menyampaian berita jangan sampai bersifat provokatif, yang mengundang terjadinya kesalahpahaman antara kelompok.
Ketiga,  media harus bersifat netral, dan menghindari berita pesanan.
Keempat, wartawan (media) bukan hanya sekedar menyebarkan berita, akan tetapi perlu pula memperhatikan nilai moral di dalam pemberitaan tersebut. Semakin berita jauh dari moral, maka semakin berita itu akan mudah diterima dan terkonstruk di dalam masyarakat. Misalnya sazkia gotik yang jelas-jelas menghina pancasila, malah dijadikan duta pancasila, hal terburuknya adalah berita tersebut bukan hanya satu kali ditayangkan.
Kelima, media sewajarnya ketika memberitakan suatu perkara konflik, haruslah disertai dengan solusi terhadap konflik tersebut, bukan malah memprovokasi publik dengan bahasa diplomasi media.
Apabila konflik sudah terlanjur merebak, maka komunikasi dapat dilakukan dengan lebih intensif, antara lain melalui cara-cara sebagai berikut:
Pertama dengan menginvestigasi insiden yang terjadi melalui komunikasi intensif dengan pihak-pihak yang terlibat pertikaian.
Kedua dengan mengontrol isu-isu atau rumor untuk memperbaiki kesalahpahaman dan laporan-laporan yang bersifat memfitnah, antara lain melalui himbauan kontrol media dan menahan diri untuk tidak memberikan statement yang menyulut emosi.
ketiga dengan memfasilitasi dialog antara semua pihak yang terlibat pertikaian, agar terjadi komunikasi dua arah.
Keempat dengan memberikan contoh tindakan solidaritas dengan melibatkan semua pihak yang bertikai, berupa langkah konkrit untuk saling membantu “lawan” konfliknya.
Kelima dengan membangun keyakinan dan kepercayaan diantara pihak yang berkonflik melalui komunikasi persuasive.
Keenam dengan mendorong rekonsiliasi/perdamaian antara pihak-pihak yang berkonflik.
Ketujuh dengan meminta setiap pihak membuat kesepakatan tidak mengulangi insiden yang merugikan.
Kedelapan dengan membantu penyembuhan luka fisik, emosional, psikologis, dan spiritualnya melalui perilaku simpati dan empati dari semua pihak yang berkonflik.
Kesembilan dengan mengubah struktur dan system yang dinilai kurang sesuai di daerah konflik, sehingga nantinya terjadi perubahan sosial kearah yang lebih positif. Konflik ada bukan untuk dihindari, namun untuk diselesaikan dengan tindakan nyata dan tepat sasaran.
Adapun langkah untuk mengelola konflik dapat dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut :
a.          Analisis konflik, yaitu suatu proses praktis untuk mengkaji dan memahami kenyataan konflik dari berbagai sudut pandang (Fisher et al., 2000). 
b.         Strategi, yaitu serangkaian langkah yang saling terkait secara logis untuk menyelesaikan masalah, yang dapat diuji dan diubah sesuai dengan perkembangan situasi. 
c.          Tindakan, yaitu upaya langsung maupun tidak langsung dalam menyelesaikan konflik.
d.         Proses belajar, yaitu proses evaluasi untuk merefleksi apa saja yang telah dikerjakan, sehingga kita dapat mengambil tindakan yang lebih bijaksana dan lebih efektif di masa depan. 
Di dalam tiap tahapan tersebut diatas, kegiatan komunikasi terus dijalin antara mediator, maupun pihak-pihak yang melakukan pertikaian. Agar konflik yang sudah terjadi dapat diselesaikan secara tuntas, perlu langkah konkrit jangka pendek/menengah/panjang, yang mencakup bidang militer/keamanan, politik/konstitusi, ekonomi/sosial, psiko sosial, dan internasional. 

Kesemua konsep penanggulangan konflik diatas, tidak adak terealisasi dengan lancar tanpa adanya dukungan penuh dari pemerintah. Pemerintah melalui KPI, hendaknya memberikan reward terhadap media yang memberitakan solusi, mengandung pesan moral, dan bersifat independent. Sebaliknya, pemerintah melalui KPI memberikan sanksi kepada media yang menjadi provokator dan memberi ancaman berupa kesalahpahaman antara kelompok, yang berimbas kepada konflik antara kelompok. Pemerintah, masyarakat, bahkan pemilik media, harus mengutamakan kerja sama demi terwujudnya Indonesia yang adil dan makmur.

Sabtu, 21 Mei 2016

Penggunaan Batu Akik Dalam Kepercayaan Masyarakat

Penggunaan Batu Akik Dalam Kepercayaan Masyarakat
(Pendekatan Psikologi Islam)
Tidak dapat dipungkiri di era perkembangan zaman yang semakin modern dan canggih, masih banyak masyarakat yang menganut tradisi budaya. Salah satunya adalah kebiasaan memakai batu mulia yaitu akik. Hampir rata-rata seorang pria memakai batu cincin atau akik disetiap acara, baik itu acara yang bersifat resmi ataupun tidak. Mulai dari anak-anak yang berumuran 7 tahun, sampai orang tua yang berumuran 70 tahun. Seakan-akan batu akik sudah menjadi simbolis sebagai pelengkap hidupnya, bahkan derajat perekonomian seseorang ditentukan pada jenis batu akik apa yang dia kenakan. Memakai batu cincin adalah gengsi bagi kalangan tertentu, dikarenakan semakin bagus batu yang ia kenakan, maka akan semakin mahal harga yang menjadi acauan gengsi, pamor atau popularitas tentang sosok yang memakai batu tersebut.
Perbincangan pun menjadi panjang mengenai batu apa yang ia kenakan, baik di warung kopi, di pasar, di tepi jalan bahkan sampai di dalam rumah. Perbincangan batu akik tergolong unik, karena tidak sebatas membahas jenis batu, harga, dan kualitasnya, melainkan fungsi serta  hal-hal  mistis di dalamnya, termasuk jenis jin apa yang mendiami batu itu. Beberapa dari mereka juga ada yang menjadi kolektor, sebagai penyaluran hobi atau tempat memperoleh rizki dari usaha jual beli batu akik, bahkan sampai kepada kemusyrikan.
Kemusyrikan yang terjadi dikalangan pengguna batu akik disebabkan karena sebagian masyarakat kita masih memelihara kepercayaan dinamisme terhadap benda-benda mati. Mereka menganggap bahwa benda mati tertentu memiliki kekuatan, kesaktian, atau keistimewaan yang sangat dahsyat, sehingga bisa dijadikan sebagai jimat, senjata, atau yang lainnya. Padahal, kepercayaan seperti ini hanyalah bersumber dari khurafat, khayalan,& halusinasi semata. Kepercayaan seperti ini melekat dalam diri mereka dan direalisasiakan dalam batu akik. Kekuatan magis pada batu akik dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya siapa saja orang yang pernah memakainya dan dari mana didapatkan. Semakin tinggi kepercayaan seseorang terhadap batu akik, maka semakin jauh dari Allah dan semakin dekat dengan kemusyrikan.
Berdasarkan Riwayat dari Ahmad, Al-Hakim& Ibnu Hibban yang dinilai shahih oleh Al-Haitsami dlm Al-Majma’ Rasulullah bersabda ; “Barangsiapa yang menggantungkan jimat, semoga Allah tak mengabulkan tujuan yang dia inginkan. Dan barangsiapa yang menggantungkan wada’ah (salah satu jenis jimat), semoga Allah tak menjadikan dirinya tenang.” Rasulullah sudah menghapus segala apa pun bentuk khurafat termasuk kepercayaan khurafat terhadap jimat dan di dalam-nya termasuk adalah mempercayai bahwa ada kekuatan magis di dalam batu akik.
Dalam hal ini bukanlah batu akik yang bersalah, karena batu akik hanya menunjukan eksistensinya sebagai batu biasa. Selayaknya kesalahan-kesalahan seperti ini haruslah dikembalikan kepada makhluk yang memiliki akal, yang dapat membedakan amar ma’ruf nahi mungkar yaitu manusia. Mayoritas manusia yang sudah tidak sanggup bersabar menerima cobaan yang diberikan Allah SWT mengambil jalan pintas untuk mengubah nasibnya.
Dalam tinjauan Islam memakai cincin atau perhiasan batu akik bukan suatu yang dilarang atau bahkan diharamkan oleh agama. Dalam artian penetapan hukum dan haramnya seseorang memakai batu akik tergantung pada orangnya sendiri. Mungkin sudah sering kita mendengar suatu hadits “ Innamal A’malu binniat”. Yang artinya segala sesuatu tergantung dari niatnya. Secara logika, niatlah yang menentukan suatu hukum pada batu akik. Bisa menjadi haram, jika orang yang memakainya meyakini bahwa terdapat kekuatan magis di dalam batu itu, yang membuat kehidupannya menjadi semakin sukses sehingga tidak mempercayai adanya Allah. Dan boleh digunakan apabila hanya sekedar sebagai aksesoris, memperindah tampilan dan  menumpuhkan rasa percaya diri.
Dalam hadits riwayat Muslim no. 2094 dijelaskan bahwa:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ فِيهِ فَصٌّ حَبَشِيٌّ كَانَ يَجْعَلُ فَصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai cincin perak di tangan kanan beliau, ada mata cincinnya terbuat dari batu habasyah (Etiopia), beliau menjadikan mata cincinnya di bagian telapak tangannya.”
Berdasarkan hadits tersebut, dapat ditarik benang merahnya bahwa Rasulullah SAW mengenakan cincin perak dan mata cincinnya terbuat dari batu habasyah. Di zaman sekarang batu itu dikategorikan dalam golongan batu akik. Dalam ajaran islam bukan kah segala sesuatu perbuatan, perkataan, dan ketetapan Rasulullah adalah sunah, yaitu patut untuk di ikuti oleh hambanya. Salah satu nya yaitu kebiasaan Rasulullah dalam memakai dan menggunakan cincin batu akik. Namun perlu dipahami bahwa Rasulullah tidak menggunakan batu akik untuk mencapai sebuah keberhasilan, kekayaan dan kekuatan. Melainkan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini melalui izin yang maha kuasa.  
Berkaitan dengan marak penggunaan cincin dengan mata cincin batu akik/batu mulia ulama berbeda pendapat, ada yang berpendapat sunnah dan sebagian berpendapat mubah saja.
Kebolehan tersebut bisa berubah hukumnya menjadi haram apabila ada sebab-sebab yang membuatnya haram, yaitu memakai cincin diiringi dengan riya’ dan sum’ah dengan memamerkan apa yang dikenakan kepada orang lain secara berlebihan untuk berbangga-bangga dan mengharapkan pujian  dari orang lain karena kualitas dan harganya yang mahal.

            Jika ditinjau dari faktor ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, terjadi pemborosan, dan tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk  membeli batu cincin, sehingga terkadang banyak kewajiban suami terhadap keluarga terabaikan. Uang yang seharusnya digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah anak malah digunkan untuk membeli batu akik. Padahal di dalam islam menyekolahkan anak termasuk berjihad di jalan Allah SWT. Bukannya melarang untuk membeli batu akik, namun jika masih terdapat kebutuhan keluarga yang belum terpenuhi, alangkah baiknya jika memenuhinya terlebih dahulu. Orang yang cerdas dan bijaksana pasti menggunakan hartanya di jalan yang mendatangkan manfaat lebih banyak.



Yogyakarta, 20 Februari 2016


SULESSANA

Pengetahuanku Menggugat Agama

Pengetahuanku Menggugat Agama

Sering terbisik ditelinga kita ungkapan “ contohlah padi, semakin berisi semakin tunduk”. Analogi ini memang sangat bagus dijadikan sebagai motivasi, terlebih lagi dikalangan masyarakat pada umumnya dan penuntut ilmu pada khususnya. Mengapa dianalogikan sebagai padi?. Kita bisa mengamati bagaimana padi itu berproses, dari setitik benih yang dihamburkan di tengah sawah (diampo’) dalam bahasa bugis Bone, tumbuh menjadi sebatang padi, menghasilkan daun, hingga akhirnya menumbuhkan biji-bijian yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.
Tentunya, analogi ini akan mengikuti perkembangan zaman, yang berkembang dari waktu ke waktu. Hingga saya sempat berpikir bahwa ketika padi diibaratkan llmu, maka matahari adalah agama (keyakinan). Kita bisa melihat tanaman padi,
Awal mula kehidupan padi adalah ketika bibit-bibit padi dihamburkan ke tengah sawah. Begitu banyak bibit-bibit padi yang dihamburkan, tetapi tidak semuanya akan mencapai tahap puncak (menghasilkan biji padi), hanya yang bertahanlah yang akan bisa dimanfaatkan oleh manusia. Fase ini saya analogikan seperti sperma yang dikeluarkan seorang ayah, berjalan memasuki rahim seorang ibu, melewati segala rintangan di dalamnya hingga akhirnya hanya yang bertahan pula yang akan menjadi janin. Disini kehidupan manusia berlangsung tanpa adanya campur tangan dari luar, entah itu pemilik rahim maupun pemilik sperma.
Setelah bibit padi tumbuh menjadi tunas, mulailah padi itu diberikan pupuk, disirami racun pembasmi hama, dan hal-hal lainnya yang akan melindunginya agar bisa menjadi sebatang padi yang kokoh. Begitupula ketika janin telah dilahirkan di muka bumi ini, dia akan menjadi seorang bayi mungil yang akan selalu dilindungi oleh orangtuanya, agar dia menjadi manusia dewasa.
Akhirnya dari tunas menjadi sebatang padi yang kokoh, kuat, dan sudah mulai bisa melindungi dirinya sendiri. Begitupula seorang anak remaja, yang sudah bisa mentaati perintah dari orangtuanya, keluarga, bahkan masyarakat. Tanpa dia ketahui mengapa yang dilakukannya itu diterima baik/ditolak oleh masyarakat. Di masa ini seorang remaja akan lebih memikirkan harga dirinya agar bisa diterima baik oleh masyarakat, sudah bisa membedakan perintah agama beserta larangannya. Di fase ini seorang anak tadi mulai mengkonsumsi ilmu, bahkan haus akan ilmu.
Entah mengapa padi yang kokoh tadi, tumbuh lurus  menghadap ke matahari. Hal ini dijelaskan dalam bidang biologi bahwa tanaman hijau yang tumbuh akan mengarah ke matahari, entah itu pucuk atau daunnya. Megapa demikian?, karena matahari adalah penyalur cahaya bagi tumbuhan padi untuk melakukan proses fotosintesis. Dapat dikatakan bahwa mataharilah yang memberikan kehidupan kepada sang padi. Ibarat manusia dewasa, fase ini saya sebut sebagai fase penerimaan tanpa penyaringan. Dimana manusia dewasa menerima ilmu, dia sudah bisa menggunakan akal dan pikirannya dalam membedakan hal yang baik dan buruk.
Hingga akhirnya ketika matahari memberikan cahayanya, sang padipun melakukan proses fotosintesis yang menghasilkan biji-bijian, semakin banyak biji-bijian yang dihasilkan, semakin merunduk pula padi itu dan berpaling dari matahari, hingga ia dipetik dan dikonsumis oleh manusia.
Lalu apa masalahnya? Tidak ada masalah di dalamnya, akan tetapi ketika seorang manusia terlahir di dunia ini, dia terlahir sebagai manusia fitrah, bersih dan bagaikan kertas putih. Ketika dia diajarkan kebaikan maka dia akan melakukan kebaikan, begitupun sebaliknya, ketika dia diajarkan keburukan, maka keburukan pula yang dilakukannya. Hingga akhirnya seorang manusia menjadi dewasa dan mulai memiliki banyak pengetahuan tentang agama. Semakin banyak pengetahuan yang dimilikinya, semakin banyak pula pertimbangan di dalam benaknya, hingga hal-hal yang seharusnya diyakininya pun ditinggalkan lantaran tidak menemukan penjelasan ilmiahnya. Seseorang yang dengan pengetahuannya akan meninggalkan agama jika dia tidak bisa membuktikan kebenaran agama itu, dia meninggalkan agama dengan modal pengetahuannya yang sangat luar biasa hingga  jiwanya harus bertatap muka dengan malaikat israil.

Janganlah berbangga diri dan tinggi hati ketika memiliki pengetahuan, karena pengetahuan itu hanya sebatas ilmu tanpa diaplikasikan. Dan ketika ilmu yang diaplikasikan bertentangan dengan agama, maka ilmu itu hanya akan menjadi sebatas pengetahuan yang tidak bermanfaat. Jika kata tak lagi bermakna, lebih baik diam saya, meski diam itu adalah emas, akan tetapi berbicara pada saat yang dibutuhkan adalah berlian.


Yogyakarta, 5 Januari 2016
SULESSANA

pemaknaan dalam pacaran

Pemaknaan Dari Pacaran  

Sejenak kita sadari bahwa manusia diciptakan dengan perasaan cinta. Perasaan yang memilik banyak pemaknaan, yang berorientasi terhadap perilaku berbeda. Jika di dalam islam kita mengenal konsep taaruf, maka di roda zaman modern kita mengenal konsep pacaran. Saya tidak akan membandingkan antara kedua konsep tersebut. Lantas apa yang akan kita bahas dalam kajian ini? saya mengajak untuk menemukan makna dari pacaran yang bisa dijadikan konsep dalam memahami makna kehidupan yang diberikan oleh Tuhan.
Sekarang lihat, perilaku masyarakat yang menggunakan konsep pacaran dan pandangan masyarakat terhadap orang yang pacaran. Sudah jelas saudaraku, pacaran selalu dianggap negatif, mendekatkan dengan dosa, dan rawan akan perbuatan tercela. Tetapi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah kita pernah memahami makna dari pacaran? Apakah kita pernah berpikir untuk mencari nilai-nilai keangungan Tuhan dalam perilaku orang pacaran?.
Pacaran identik dengan kata putus bukan?, bahkan ketika kita berpikiran untuk mencintai, maka kita harus siap untuk membenci, ketika kita siap untuk menyayangi, maka jangan lupakan bahwa kita akan menyakiti, jika kita berpikir untuk bersatu, maka ingatlah disaat kita sendiri. Buat apa kita menjalin konsep pacaran jika akhirnya nanti kita akan putus? Mungkin kita akan menjawab, saya akan bertahan dengan dia, saya akan memperjuangkan dia, saya akan mendatangi orang tuanya dan melamarnya. Apakah kita yakin dengan semua itu? Bukankah semuanya itu adalah emosi saat menjalin hubungan beberapa bulan? Apakah kita sudah puas dengan dia yang sekarang? Pernah berpikir untuk mencari yang lebih baik? Apakah cinta yang kita berikan disaat hari pertama hubungan itu sama dengan 3 atau 4 tahun kemudian? Bisa jadi, kalau tidak putus, tapi kalau putus? Apakah cinta masih bertahan? atau sudah tegantikan oleh benci? Apalagi jika kedua belah pihak menjalin hubungan dengan orang lain, apakah masih cinta? Atau sudah merasa tersakiti? Lebih dari itu, jika kedua belah pihak membandingkan antara yang dulu dengan yang sekarang, dan menganggap yang dulu itu tidak ada apa-apanya dengan yang sekarang, apakah masih cinta? Atau sudah siap membalas perlakuannya?
Disitulah nilai islam yang harus kita yakini, ketika mencintai sesuatu jangan terlalu mencintai, bisa saja sesuatu itu mendatangkan keburukan, jika membenci sesuatu jangan terlalu membenci, bisa saja pertolongan datang dari kebencian itu. Jika kita bertanya, apa hubungan semua itu dengan kehidupan? Apa hubungan antara pacaran dengan kebesaran Tuhan?
Sebelum menjawab, saya mengajak anda untuk menyamakan persepsi, apakah anda setuju jika kebersamaan itu diawali oleh kesendirian? Apakah pacaran itu nantinya akan menyebabkan putus? Jika anda sudah sependapat, mari kita kaji hal itu.
Sering sekali saya mendengar manusia begitu mengeluh dengan hidupnya, seakan-akan Tuhan tidak adil dengan semua ini, ada yang diciptakannya dari keluarga yang kaya, didaerah  perkotaan, dan dilengkapi fisik yang sempurna, bahkan adapula yang diciptakan sebaliknya. Mengapa Tuhan menciptakan kehidupan jika diakhiri oleh kematian?.
Saya beranjak dari prinsip orang yang pacaran, meski tahu nantinya akan putus, tetapi mereka tetap pacaran. Namun yang membedakan semua itu adalah cara mereka bertahan, mencintai, menjaga dan menyayangi. Begitupula dengan kehidupan, kita tahu bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian bukan? Tetapi inti kehidupan bukanlah kematian, melainkan proses kita bertahan menjalani hidup, menerapkan perasaan yang dikaruniakan Tuhan, mempertahankan bahkan mencari kehidupan yang layak. Itulah persamaan antara konsep pacaran dengan konsep kehidupan, kita diajarkan untuk berproses meski mengetahui akhir dari ceritanya.
Tetapi tetap saja Tuhan tidak adil, saya diciptakan berbeda dengan dia, dia lebih dari saya, dia memiliki segalanya, bahkan saya akan selalu kalah jika bersaing dengan yang lain. Lagi-lagi lihatlah orang pacaran, apakah mereka mencintai dan memperlakukan pacarnya seperti orang lain? Tidak, karena kita bisa membuat bahagia dengan cara tersendiri. Pacar yang satu akan bahagia jika diberi hadiah mobil saat ulang tahunnya, pacar yang lain juga akan bahagia jika menghabiskan waktu berdua saat ulang tahunnya. Jadi inti dari pacaran itu adalah kebahagiaan, selama masih ada kebahagiaan maka akan tetap bertahan hubungan itu. hidup juga seperti itu, kita tidak perlu menjadi orang lain untuk bahagia bukan? Kita cukup melakukan hal sederhana yang bermanfaat. Seperti indahnya pacaran yang ditemukan disaat kita bahagia, keadilan Tuhanpun seperti itu, akan terasa disaat kita menemukan kebahagiaan dalam hidup. Jika kamu belum menemukan keadilan, lihatlah dirimu, apakah kamu sudah bahagia?, jika belum, mari ciptakan kebahagiaan, dan temukan keadilan Tuhan.


                                                                                    Yogyakarta, 31 Desember, 2015




   SULESSANA