Tampilkan postingan dengan label Konsep Psikoterapi dalam Al-Quran dan Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konsep Psikoterapi dalam Al-Quran dan Hadits. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2016

Konsep Psikoterapi dalam Al-Quran dan Hadits

Part 2

Psikoterapi melalui puasa
            Puasa merupakan terapi yang bermanfaat untuk mengatasi perasaan berdosa dan kegelisahan yang mengganggu didalam jiwa seseorang. Rosulullah saw menyatakan bahwa balasan puasa adalah ampunan dosa dan berhasil meraih surga. Hal ini membuat seseorang menjadi lebih tenang dan tidak terpuruk memikirkan kegelisahan dan perasaan berdosanya.
            Selain itu, puasa mempunyai banyal manfaat kejiwaan. Ia mengendalikan dan mengatasi hawa nafsu, serta merupakan pendidikan dan pelurusan jiwa dan penyembuhan berbagai penyakit jiwa dan tubuh.
Psikoterapi melalui haji
            Haji mempunyai berbagai manfaat psikis yang besar artinya. Sebab, kunjungan seorang muslim ke masjidil haram dan madinah, yakni tempat turunnya wahyu dan berbagai medan pertempuran islam akan membekalinya dengan suatu tenaga rohaniyah besar yang akan menyirnakan dari dirinya seglam keruwetan dan problem kehidupan da memberikan perasaan damai, tenteram dan bahagia.
            Orang yang berhaji tentu mengharapkan agar Allah ta’ala menerima ibadah hajinya, mengabulkan doa-doanya dan mengampuni dosa-dosanya. Karena itu, ia pun akan kembali dari ibadah hajinya dalam keadaan terbebas dari perasaan berdosa, derita kegelisahan, seraya perasaannya diliputi ketenangan, dan ketentraman serta perasaan gembira, lapang dan bahagia.
                        Psikoterapi melalui dzikir
                        Dengan berdzikir akan membuat sesorang merasa berada dalam penjagaan dan perlindungan Allah, memperkuat harapan akan diampuninya dosa, memunculkan perasaa rela dan damai dalam diri serta menumbuhkan ketenangan dan ketentraman dalam jiwa.
                        Rosulullah mengajarkan kepada para sahabatnya agar senantiasa berdzikir kepada Allah dan bertasbih kepada Nya. Karena berdzikir dan bertasbih merupakan terapi yang mujarab untuk mengatasi perasaan berdosa dan kegelisahan.
                        Psikoterapi melalui al quran
                        Membaca al-quran akan membuat dosa-dosa terampuni, menggandakan kebaikan, dan meneguhkan harapan akan masuk surge. Karena itu, membaca al-quran merupakan terapi untuk menghilangkan kegelisahan yang timbul akaibat perasaan berdosa. Selain itu, dengan membaca al quran juga merupakan terpai untuk semua kegelisahan jiwa dan psikopati.
                        Ibnu taimiyah mengemukakan bahwa al quran adalah obat untuk semua penyakit yang ada didalam dada serta bagi orang-orang yang didalam hatinya terdapat penyakit ragu dan syahwat.
                        Ibnu majah dalam sunannya meriwayatkan hadits dari ‘Ali bin abi tholib yang menyebutkan bahwa Rosulullah bersabda, “ sebaik-baik obat adalah al qur’an. Hadits ini menunjukkan bahwa al qur’an adalah obat untuk semua penyakit, baik penyakit psikis maupun fisik.
                        Psikoterapi melalui doa
                        Harapan doa akan dikabulkan oleh Allah akan meringankan kesedihan dan kebingungan orang mukmin. Ia akan memberikan kekuatan yang dapat membantu seseorang untuk bersikap tabah dan sabar serta menumbuhkan ketenangan batin.
a.       Terapi gelisah, cemas dan sedih dengan doa
                        Rosulullah mengobati rasa gelisah, cemas dan sedih sahabat-sahabatnya dengan mengajari mereka doa-doa tertentu yang bisa mereka panjatkan.
                        Salah satu doanya yaitu “ya Allah, akau berlindung kepadamu dari kecemasan dan kesedihan, aku berlindung kepada Engkau dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada Engkau dari sifat pengecut dan bakhil, aku berlindung kepada Engkau dari hutang dan tekanan orang-orang”
b.      Terapi insomnia dan takut ketika tidur dengan doa
      Rosulullah mengobati sulit tidur dan rasa takut ketika tidur dengan berdoa.
c.       Terapi perasaan berdosa dengan doa dan tasbih
      Pengungkapan seseorang akan problem-problem yang membuatnya resah dan gelisah dibarengi dengan keadaan tenang dan santai akan membuatnya terlepas dari kegelisahan. Menurut para ahli psiko-terapi, pengingatan seorang pasien akan problem-problemnya dan perbincangan mengenainya akan meredakan kegelisahannya.
d.      Terapi lupa dengan doa
      Rosulullah memberikan terapi berupa doa atas pengaduan Ali yang suka lupa hafalan al quran.
                        Psikoterapi melalui taubat
                        Perasaan berdosa menyebabkan manusia merasa negative dan gelisah. Akibatnya akan timbul berbagai penyakit jiwa. Al quran membekali kita dengan suatu metode yang unik dan berhasil dalam menyembuhkan perasaan berdosa yaitu dengan metide taubat.
                        Taubat merupakan salah satu obat yang paling penting menghilangkan perasaan berdosa.

Berbagai aliran psikoterapi menggunakan aneka metode terbaik untuk menghilangkan kegelisahan. Namun, taubat merupakan metode paling baik untuk menghilangkan kegelisahan.

Jumat, 16 September 2016

Konsep Psikoterapi dalam Al-Quran dan Hadits

Part 1

 “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”
                        Dalam Q.S. Yunus ayat 57 telah jelas diterangkan bahwa dalam al quran terdapat kekuatan spiritual yang luar biasa dan mempunyai pengaruh mendalam atas diri manusia. Ia membangkitkan pikiran, menggelorakan perasaan, mengunggah kesadaran, dan menajamkan wawasan. Dan manusia yang berada dibawah pengaruh al-quran ini seakan menjadi manusia yang baru yang tercipta kembali.
                        Baru-baru ini timbul berbagai aliran dikalangan para ahli ilmu jiwa yang menyatakan tentang pentingnya agama dalam kesehatan jiwa dan dalam terapi penyakit jiwa, AA. Bril, seorang ahli psiko-analis, berkata bahwa “individu yang benar-benar religius tidak akan pernah menderita sakit jiwa”.
                        Psikoterapi Melalui Iman
                        Pengkajian terhadap sejarah agama- agama , khusus nya sejarah agama islam, membekali kita berbagai bukti tentang keberhasilan iman kepada Allah dalam menyembuhkan jiwa dari berbagai penyakit, merealisasikan perasaan aman dan tentram dan menjaganya dari berbagai keresahan dan penyakit jiwa yang kadang-kadang ditimbulkan olehnya.
                        Bagi seorang mukmin, ketenangan jiwa, rasa aman, dan ketentraman jiwa akan terealisasi. Sebab, keimanannya yang sungguh-sungguh kepada Allah akan membekalinya dengan harapan akan pertolongan allah, lindungan allah, dan perlindungan-Nya.
                        Dalam hadits dijelaskan bahwa mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah dan berdzikir bisa menyebabkan kebeningan dan kejernihan pada diri manusia serta melepaskan kekuatan spiritual dari ikatan-ikatan fisik dan materi.
                An nu’man bin basyir meriwayatkan sebuah hadits Rosulullah, yang artinya yaitu “ ketahuilah, sesungguhnya didalam jasad itu ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik maka seluruh jasadpun baik. Sebaliknya, jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh jasad pun rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati”.
                        Hadits diatas menjelaskan behwa memperbaiki seseorang harus dimulai dengan memperbaiki jiwa dari dalam yaitu hatinya. Caranya dengan beriman kepada Allah, bertauhid kepada-Nya, dan bertaqorrub kepada-Nya dengan beribadah, bertakwa, dan taat.
                        Dalam hadits dan ilmu jiwa (najati, 2005) disebutkan bahwa iman, tauhid dan ibadah kepada Allah ta’ala dapat memunculkan sikap istiqomah dalam berperilaku dan bisa menjadi proteksi dan terapi jiwa. Hasilnya, seorang mukmin yang berpegang teguh pada agamanya akan senantiasa menyadari keberadaan Allah ta’ala dalam setiap penggal ucapan dan tingkah lakunya. Keimanan akan melindunginya dari perilaku menyimpang dan ketidak normalan, dan menjaganya dari penyakit jiwa.
                        Psikoterapi Melalui Ibadah
                        Ibadah merupakan metode pensucian diri yang secara psikologis orang beribadah terhibdar dari perilaku menyimpang (fahsya dan munkar).
                        Ibadah-ibadah seperti sholat, zakat, puasa, dan haji bertujuan pengembangan psikologis; yaitu dekat dengan Allah. Kondisi individu yang merasa dekat dengan tuhan akan dapat menghalangi hawa nafsu untuk melakukan hal-hal yang dilarang norma, peraturan dan undang-undang.
               Psikoterapi melalui sholat
                        Sholat memiliki pengaruh yang signifikan dan efektif untuk mengobati kegelisahan manusia. Berdiri dalam sholat dihadapan Rabb-nya dengan khusuk dan pasrah dan benar-benar bebas dari segala kesibukan dan kesulitan hidup; sesungguhnya akan membangkitkan ketenangan, kedamaian, dan ketentraman dalam diri manusia, menghilangkan kegelisahan dan ketegangan syaraf yang timbul akibat berbagai tekanan dan tekanan hidup.
                        Keadaan tentram dan jiwa tenang merupakan sarana yang dipergunakan oleh sebagian ahli psikoterapi modern dalam menyembuhkan berbagai penyakit jiwa. Selain itu keadaan tenang dan jiwa damai dalam sholat juga membantu melepaskan diri dari kegelisahan yang dikeluarkan oleh para pasien jiwa.
                        Komunikasi dengan rabbnya ketika sholat akan memberikan kekuatan spiritual yang besar yang berpengaruh terhadap berbagai perubahan penting dalam dalam fisik dan psikis manusia. Kekuatan spiritual ini ada kalanya memberikan pengaruh kepada tubuh sehingga bisa menepis ketegangan, menghilangkan kelemahan, dan menyembuhkan berbagai penyakit.

                        Sholat memiliki pengaruh penting untuk memulihkan perasaan berdosa yang menjadi sebab kegelisahan yang dipandang sebagai pangkal terjadinya penyakit jiwa.



Referensi :
Najati, Muhammad Utsman. 1988. Hadits dan Ilmu Jiwa. Bandung : Pustaka
Ardani, Tristiadi Ardi, 2008. Psikiatri Islam. Malang : UIN Malang Press
Mujib, Abdul. 2006. Kepribadian Dalam Psikologi Islam. Jakarta: Raja Grafindo.

Rajab, khairunnas. 2012. Psikologi agama. Yogyakarta; aswaja pressindo