Jumat, 26 Agustus 2016

Neuron Cermin

Neuron Cermin
(Sistem Saraf Kepekaan)

Lebih baik mana memiliki satu sahabat atau seribu teman?
Lebih baik mengatakan kebenaran meskipun itu pahit atau menutupinya dengan kebohongan demi menjaga perasaan?
Jika saya menjadi kamu, saya akan berprinsip lebih baik berteman dengan seribu orang dan mengatakan kebenaran yang pahit, karena hanya mereka yang menerima pahitnya kebenaran yang layak dijadikan sahabat.
            Yuk simak hal seputar Neuron Cermin.
Pada suatu ketika, saya merencanakan perjalanan kereta api dari Yogyaarta ke Bandung, muncullah pikiran terasing di dalam diri saya, yang tidak megenal siapapun di dalam kereta itu. Singkat cerita saya mendengar pekikan jauh di belakang saya, dari ujung satunya gerbong kereta itu. Spontan, punggung saya menghadap ke arah sumber jeritan itu. Namun, saya berhadapan langsung dengan seorang pria yang wajahnya terlihat agak cemas.
Pikiran saya berkejaran untuk memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang andaikan ada yang harus saya perbuat. Apakah itu perkelahian? Apakah ada orang yang mengamuk di gerbong sebelah? Atau apakah ada orang yang terjatuh dari gerbong? Atau jeritan itu sekedar jeritan senang, barangkali sekelompok remaja sedang kegirangan? Semua itu menjadi pertanyaan besar dalam pikiran saya.
Jawaban dari pertanyaan besar itu saya dapatkan dengan cepat dari wajah pria yang bisa melihat apa yang terjadi; kecemasan segera mereda, ia menjadi tenang dan kembali duduk menyeduh minumannya. Saya pun tiba-tiba menjadi rileks ketika melihat pria itu kembali duduk dengan wajah tenang.
Dalam saat-saat seperti ketika kecemasan melanda saya dengan tiba-tiba di dalam kereta, secara naluriah kita akan memperhatikan wajah orang-orang di sekita kita, wajah pria pertama yang saya lihat tadi menunjukkan kecemasan, karena dia juga tidak mengetahui penyebab teriakan tersebut, dan kamipun menjadi cemas. Disisi lain setelah saya mengarahkan pandangan ke pria yang mengetahui penyebab suata itu, dengan wajahnya yang rileks dan kembali duduk, membuat saya ikut rileks dengan anggapan tidak ada bahaya yang terjadi.
Penjelasan dari cerita diatas, pada zaman prasejarah, sekelompok manusia purba secara bersama-sama tentu memiliki lebih banyak mata dan telinga daripada seorang individu dan hal ini memungkinkan mereka memiliki tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi dibanding seorang individu sendirian. Dalam bahasa yang mudah dimengerti, melihat seseorang yang menunjukkan mimik perasaannya, bisa membuat kita tersedot masuk ke dalam perasaannya.
Contoh lainnya, ketika seseorang yang senyum dengan anda, secara spontan anda juga akan senyum bukan? Ketika seseorang melihat anda dengan penglihatan sinis, secara spontan anda akan mengkerutkan dahi anda dan merasa tidak senang dengan orang itu bukan? Itulah yang dikatakan sebagai neuron cermin (Giacomo Rizzolatti,ilmuan Italia dalam bidang saraf). Neuron cermin memantulkan kembali tindakan yang kita lihat pada orang lain, membuat kita meniru tindakan atau terdorong untuk melakukan hal itu. Neuro cermin mengingatkan saya kepada pepatah lama “Bila engkau tersenyum, semua orang tersenyum kepadamu”.
Neuron cermin teraktifkan begitu kita mengamati orang lain, misalnya menggaruk atau mengusap air mata. Neuron cermin membuat emosi menular, membiarkan perasaan-perasaan yang kita saksikan mengalir melalui diri kita, membantu kita menjadi selaras dan mengikuti apa yang sedang terjadi.
Keterampilan sosial bergantung pada neuron cermin. Orang yang memiliki neuron cermin yang baik, setidaknya dia akan bersifat luwes, peka terhadap maksud dan tujuan orang lain (yah meskipun sering di php  sih), pendengar yang baik (meskipun dia merasakan kebosanan, tetapi mencoba bertahan dalam kebosanan tersebut), asyik diajak ngobrol, penyayang dan mudah bergaul. Biasanya orang ekstrovert akan lebih mudah mengendalikan dan mengarahkan neuron cerminnya dalam berinteraksi.
Jadi Guys, Semuanya ada ditangan anda.
Selamat berproses menjadi Bunglon Sosial


Sabtu, 20 Agustus 2016

Syair Cinta Kahlil Gibran Part 1

#SATU
Ohh...!
Selamat datang, Cinta
Rengkuhlah aku ke haribaan pelukanmu yang memabukkan
Terbangkanlah aku ke hamparan luas cakrawal yang tak bertepi
Agar aku ian mengerti segala rahasia kehidupan yang selama ini tersembunyi.--

#DUA
Jangan dikira cinta datang dari keakraban yang lama
Dan karena pendekatan yang tekun
Cinta adalah kecocokan jiwa
Dan jika itu tidak pernah ada,
Cinta tak akan pernah tercipta
Dalam hitungan tahun bahkan abad.--

# TIGA
Hidup tanpa cinta bagaikan sebatang pohon yang
kokoh berdiri namun dahannya kering,
tanpa dihiasi buah ataupun bunga.
Jiwa yang duka menemukan ketenteraman manakala
bersatu dengan sesamanya.
Jiwa-jiwa itu bersatu dalam kebersamaan rasa,
seperti seorang asing girang hatinya manakala ia
bertemu orang asing lainnya di negeri asing.
Segala hati yang disatukan lewat dukacita,
tak akan terpisahkan oleh kemenangan rasa bahagia.--

#EMPAT
Berbicaralah padaku!
Maukah engkau mengenangku sesudah prahara ini
Menenggelamkan prahara cinta kita?
Maukah engkau mendengar bisik sayap-sayapku
dalam keheningan malam?
Maukah engkau mendengar arwahku yang melambai-lambai di atasmu?
Maukah engkau mendengar keluh kesahku?
Maukah engkau melihat bayang-bayangku mendekat
bersama bayang-bayang rembang petang dan
menghilang bersama semburat cahaya fajar?.--

#LIMA
Aku ingin engkau mencintaiku
sebagai seorang penyair mencintai pikiran-pikirannya yang berduka.
Aku ingin engkau mengenangku
seperti seorang pengembara mengenang sebuah kolam yang tenang.
Tempat citranya membayang ketika ia meminum airnya.--

#ENAM
Sepanjang hari-hari mudaku, cinta akan menjadi guruku;
Dalam usia dewasa menjadi penolongku,
Dan di renta usia menjadi kesenanganku,
Cinta kasih dalam hati itu terbagi-bagi
Bagaikan dahan-dahan pohon cadar,
Jika pohon itu kehilangan satu dahan yang kuat,
ia akan menderita namun tidak mati.
Pohon itu akan menumpahkan seluruh daya hidupnya
Ke dalam dahan-dahan berikutnya sehingga
Ia akah tumbuh dan mengisi tempat yang kosong.—

#TUJUH
Ibu adalah segalanya,
Dialah pelipur duka kita,
Harapan kita di kala sengsar, dan kekuatan kita di saat tak berdaya,
Dialah sumber cinta, kasih, kecenderungan hati, dan ampunan.
Barang siapat kehilangan ibu, ia kehilangan semangat murni
Yang senantiasa melimpahkan restu dan lindungan padanya.
Segalanya dalam alam semesta ini membutuhkan ibu.
Matahari adalah sang ibu,
 yang senantiasa memberikan santapan pada bumi.
Ia tidak pernah meninggalkan semesta di malam hari
Sebelum ia selesai menidurkan bumi lelap dalam dekapan nyanyian laut
Dan lagu puji burung-burung dan anak-anak begawan.
Dan bumi ini pun adalah sang ibu bagi pepohonan dan bunga-bungaan,
Ia melahirkannya, merawatnya, dan menyapihnya.
Pepohonan dan bunga-bunga pun adalah para ibu
Bagi buah-buah dan bebijian yang baik.
Dan sang ibu, sang purwa rupa bagi semesta yang ada,
Ialah semangat abadi yang penuh dengan keindahan dan cinta.

#DELAPAN
Tembang yang diam terpendam di hati ibu
Terdengar berkidung di bibir anaknya.
#SEMBILAN
Kata yang paling indah di bibir umat manusia adalah kata ‘Ibu’,
dan panggilan paling indah adalah ‘Ibuku’.
Ini adalah kata penuh harapan dan cinta,
kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati.

#SEPULUH
Aku berkata bahwa hidup memang kegelapan,
jika tanpa hasrat dan keinginan.
Dan semua hasrat-keinginan adalah buta,
Jika tidak disertai pengetahuan.
Dan segala pengetahuan adalah hampa,
jika tidak diikuti pekerjaan.
Dan setiap pekerjaan akan sia-sia,
jika tidak disertai cinta.
Bekerja dengan rasa cinta,
berarti kalian sedang menyatukan diri dengan diri kalian sendiri,
dengan diri orang lain dan kepada Tuhan.
Tapi bagaiaman bekerja dengan rasa cinta itu?
Bagaiaman menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungnya,
seolah-olah kekasihmu yang akan memakainya kelak.      


                                                                                     Yogyakarta, 15 Agustus 2016


SIA UIN PUSAT PERHATIAN BAGI RIBUAN MAHASISWA

TERUNTUK SIA PUSAT PERHATIAN BAGI RIBUAN MAHASISWA
Oleh : Sulessana
(Pecinta Ngobrol Pemikiran)
ANDA ajarkan kami untuk patuh terhadap aturan, tapi ANDA dengan mudahnya menodahi dengan alasan anggaran.
ANDA ajarkan kami untuk menjaga perasaan, tapi apakah ANDA lupa penantian kami di warnet, mata yang setiap detik memandangi layar laptop, kegigihan kami untuk saling membantu? ANDA nodahi dengan kata Maaf.
Apakah ANDA sadar? ANDA selalu ada dalam pikiran kami, bahkan waktu liburan, kami sediakan untuk melihat perkembangan ANDA.
ANDA adalah anak kecil, yang menolak apa yang diseduhkan, entah itu dari kuota Telkomsel, Indosat, bahkan warnet.
Sadarkah jika kami menyuapi ANDA dengan ikhlas? Menunggu ANDA membuka pintu, bahkan rasa kesal, benci yang terucap tak kami perdengarkan untuk ANDA.
Belum cukupkah semua ini untuk mendewasakan ANDA?
Belum cukupkah semua ini untuk mendapat perhatian kami?
Kami bisa menolak kekecewaan, tapi tak bisa menolak lupa

                                                                                                  Yogyakarta, 21 Juni 2015





Sabtu, 13 Agustus 2016

Ulama VS Gelar Agama

Oleh : Sulessana
(Pecinta Ngbrol Pemikiran)

Nabi Muhammad SAW bersabda, “ Seburuk-buruk ulama adalah yang mengunjungi penguasa, dan sebaik-baik penguasa adalah penguasa yang mengunjungi ulama”. Berbahagialah seorang penguasa yang berada di depan pintu orang miskin, dan celakalah orang miskin yang berada di depan gerbang penguasa.
Sekilas, hadits Nabi itu akan bermakna bahwa tidak layak bagi seorang ulama untuk mengunjungi pemerintah. Perbuatan seperti itu membuat buruk citra ulama. Akan tetapi, pemaknaan hadits tersebut tidak sedangkal pemikiran manusia, maksud dari mengunjungi diatas dapat diartikan sebuah perbuatan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Sebuah perbuatan yang dilakukan agar mendapat penghidupan, kebahagiaan, hadiah bahkan kemudahan dari penguasa.
Mengapa kita memakai konteks ulama untuk menunjukkan tindakan KKN yang tidak terpuji itu? Kita ketahui bahwa di Indonesia merupakan hal yang mudah untuk mendapat gelar Ustads, Kiai bahkan Ulama. Di kampung saya sendiri, cukup menjadi imam sholat berjamaah sehari atau seminggu, atau memberi ceramah ketika bulan ramadhan, atau khutbah jumat, kita sudah dipanggil ustads oleh orang-orang di lingkungan tersebut.
Ulama identik dengan keimanan, ketaqwaan, kebijaksanaan dan kharomah. Tetapi mengapa kita masih sering melihat pria berjubah dan bersurban yang ikut partai politik, berbisnis gelap, menggunakan gelar agamanya untuk mendapatkan banyak pengikut?. Hal-hal yang seperti inilah yang ditakutkan sebagai manusia yang dangkal pemahaman. Kita sering terjebak oleh penampilan, hingga lupa akan bahasa logika, kita terjebak dalam kekaguman hingga lupa bahasa hati. Kita masih sering melihat seseorang dari penampilan dibanding perilaku kesehariannya.
Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Sebuah harta dan tahta barangkali terlihat menggiurkan untuk dimiliki, membuat hidup bahagia dan tentram, tetapi sebenanrnya malah membuat hidup terpuruk dan berada dalam kenistaan. Apabila segala sesuatu adalah sebagaimana tampaknya, Nabi Muhammad tidak akan memperingatkan umatnya dengan oeringatan yang keras dengan sabdanya “Tunjukkan kepadaku suaut hal sebagaimana adanya”. Engkau melihat suaut hal menjadi tampak indah padahal kenyatannya buruk; engkau melihat suaut hal tampak buruk padahal kenyatannya indah.
Jika ulama saja melakukan perbuatan KKN, apalagi kita sebagai manusia tanpa gelar keagamaan. Jika ulama KKN kita mungkin KKNKKN. Jadi wajar jika manusia berlomba-lomba untuk menjadi penguasa yang siap disogok. Ulama buruk adalah mereka yang selalu menganggap bahwa dirinya adalah tamu dan penguasa adalah tuan rumah.
Tetapi berbeda halnya ketika seorang Ulama yang telah mengenakan jubah keilmuannya, dia melakukanbukan demi penguasa, melainkan pertama dan yang paling utama karena Allah SWT. Ketika seorang ulama berperilaku dan berjalan sepanjang jalur kebenaran, sebagaimana yang semestinya dilakukan oleh seorang ulama, dan tidak berperilaku untuk alasan lain, maka semua orang akan berdiri hormat kepadanya. Semua orang akan mendapat limpahan cahaya yang memantul darinya. Segala perilaku ulama itu selalu diatur oleh nalar dan naluri kebaikan. Dia hanya bisa hidup dalam kebaikan sebagaimana ikan yang hanya bisa hidup di dalam air.
Ulama yang seperti inilah dengan segala kebijakan, keimanan dan ketaqwaannya.yang ketika mengunjungi penguasa maka dialah yang bertindak sebagai tuan rumah. Ibaratkan sebuah matahari yang mengubah bebatuan menjadi rubik dan permata carnelian, mengubah gunung-gunung di bumi menjadi tambang tembaga, emas, perak dan timah, membuat bui hijau dan segar, menghasilkan bermacam-macam buah, sayuran, dan tanaman, Ibarat Air hujan di tengah kemarau. Ulama seperti inilah adalah ulama yang selalu bermanffat bagi masyarakat, yang membuat penguasa selalu menjadi tamunya.
Selama kita mengarungi kehidupan, kita akan selalu dihadapkan oleh dua pilihan, menjadi orang baik atau orang buruk. Gelar agama hanya pemberian masyarakat bagi mereka yang berhak untuk menyandangnya, dan gelar agama bukan batasan untuk melakukan segala kebaikan dan bermanfaat bagi manusia lainnya.

Referensi Bacaan :

Jalaluddin Rumi, Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya (Aforisme-Aforisme Sifistik Jalaluddin Rumi,  Penerj. Anwar Holid, (Bandung : Pustaka Hidayah, 2000).

Refleksi Masa Depan

Oleh : Sulessana
(Peneliti Psikologi)

Sebagai manusia yang memiliki identitas, entah itu dimasa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang, terkadang kita terlalu terpesona dengan identitas tersebut. Kita terlalu membanggakan kejayaan masa lalu kita, dan menganggapnya akan selalu menjadi masa kejayaan kita, entah itu kita alami sekarang ataupun akan kita alami dimasa mendatang. Sebagian dari kita mungkin begitu sering menjadikan sejarah kejayaan kita sebagai kebanggaan, hingga terkadang kita larut dalam nostalgia masa lalu dan melupakan bahwa masa depan itu adalah ketidakpastian. Misalnya saja, dulu kita pernah menjadi peringkat pertama di SD, peringkat itu kita bawah dan kenang hingga mencapai usia SMP. Lalu di SMP kita mendapat peringkat 2, peringkat itupun kita bawah dan kenang hingga SMA. Lalu di SMA kita mendapat peringkat 3, masih saja kita menjadikan hal itu sebagai kebanggaan dan terkadang membuat kita begitu dilemana dalam menentukan dimana kita akan kuliah.
Dulu kamu mungkin suka dengan laki-laki yang ganteng, putih dan cool, tapi sekarang kamu malah mencari yang setia, perhatian, pengertian dan tidak munutup kemungkinan besok kamu mendahulukan yang bertanggung jawab. Proses membuat kita berubah pikiran, dan lebih realitas melihat kehidupan. Dulu kamu dikagumi bisa saja sekarang kamu mengagumi. Dulu kamu yang paling cantik, bisa saja sekarang kamu yang paling jelek. Dulu kamu sering menolak orang lain, bisa saja sekarang malah tidak ada yang bisa kamu tolak. Dunia itu selalu berputar sesuai keadilan Tuhan.
Semakin banyak kenangan masa lalu yang kita bawah dalam pengambilan keputusan kita, akan semakin dilemalah kita, bahkan bisa menjadikan kita sosok yang angkuh dan sombong. Belum lagi jika kita terlahir dalam rahim orang yang kaya raya, atau dari rahim keturunan raja atau bangsawan. Masa lalu seharusnya tidak dilupakan, sesuai dengan yang dikatana Bung Karno “JAS MERAH” jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Akan tetapi, kalimat tersebut tidak selamanya relevan dengan perkembangan zaman. Bisa saja dulu Bung Karno berbicara seperti itu agar anak cucunya kelak selalu mengingat perjuangan para leluhurnya.
Kenyataan yang terjadi pada individu abad 21, malah menjadikan masa lalu itu sebagai identitas untuk kesombongan, membuat mereka terbuai dengannya, hingga terkadang mereka berpikir bahwa saya jauh lebih baik dari orang lain berdasarkan masa lalu.
Kawan, sekarang pikirkanlah, apakah orang yang disekeliling anda adalah orang yang sama? Apakah orang yang pernah anda taklukkan dimasa lalu adalah orang yang akan anda taklukkan di masa depan? Apakah keberhasilan anda dimasa lalu adalah tujuan anda di masa depan? Apakah target anda dimasa lalu adalah sama dengan target anda dimasa depan? Lantas jika tidak, buat apa anda membanggakan masa lalu anda? Hay kawan, masih banyak rintangan masa depan yang harus kita taklukkan, jangan sampai kita terlena dengan kejayaan masa lalu. Begitupula dengan kamu yang memiliki masa lalu yang suram, apakah kesuraman masa lalumu adalah kesuraman masa depanmu? Apakah sakit hatimu dimasa lalu adalah sakit hatimu dimasa depan? Apakah orang yang dulunya menyakitimu adalah orang yang akan meyakitimu dimasa depan? BUKAN KAWAN.
Saya lebih sependapat jika dikatakan belajarlah dari masa lalumu, dan bijaksanalah dengan masa depanmu. Masa lalu memang bukan untuk dilupakan, akan tetapi dikenang dan dijadikan pembelajran. Kamu yang sekarang bukanlah kamu yang dulu.
Periode masa sekarang kita merupakan periode untuk kita menanam bibit-bibit harapan masa depan. Sekarang saatnya kita untuk melangkah dengan harapan, dan membuktikan dengan proses.
Sebelum menutup bacaan ini, izinkan saya menyampaikan sebuah kalimat yang membuat saja semangat dalam berproses.
PERTIMBANGKAN TUJUANMU SEBELUM KAMU MEMUTUSKAN UNTUK KOMITMEN
INGATLAH KOMITMENMU SEBELUM KAMU MEMUTUSKAN UNTUK MELANGKAH
DAN INGATLAH PROSES LANGKAHMU SEBELUM KAMU MEMUTUSKAN UNTUK BERHENTI

MULAILAH MENGERJAKAN MASA DEPANMU.

Autisme Sosial

AUTISME SOSIAL
(Saat dunia maya memperbudakmu, maka saat itu hidupmu penuh dengan kepalsuan)
Oleh    : Sulessana
Disaat sains menyingkapkan betapa pentingnya hubungan positif dengan orang lain, tampaknya relasi antarmanusia justru sedang berada dalam masalah. Ketika teknologi menawarkan lebih banyak variasi komunikasi yang namanya saja komunikasi namun sesungguhnya adalah isolasi, muncullah berbagai hal yang tak diketahui dalam cara manusia berhubungan dan memutuskan hubungan. Teknologi yang merayap diam-diam dan mau tak mau terjadi berlangsung begitu halus dan tak kasatmata sehingga tak seorangpun pernah menghitung biaya sosial dan emosinya.
Pernahkah anda merasa ilfil ketika mengajak seorang teman berkomunikasi namun perhatiannya pada gadgetnya? Ataukan anda sendiri yang menjadi manusia gadget? Saya mengajak anda membandingkan intensitas penggunaan gadget dengan segala sesuatu yang anda miliki. Pertama aktivitas anda diawali dengan bangun tidur. Dengan apakah anda melihat waktu ketika anda bangun? Yaaa jawabannya adalah gadget.
Autisme dalam pengertian psikologi adalah kecendrungan untuk hidup dalam dunianya sendiri tanpa menghiraukan lingkungan sekitar. Autisme merupakan sebuah penyakit psikis yang berasal dari kepribadian. Terlepas dari konteks kepribadian, autisme penyakit sosial yang ruang lingkupnya jauh lebih luas dibanding autisme dari sisi psikis.
Autisme dalam konteks sosial diasumsikan sebagai manusia yang sibuk dengan dunia maya dan mengacuhkan dunia nyatanya. Penyakit ini diakibatkan oleh teknologi, membuat mereka yang jauh menjadi dekat dalam angan-angan, dan membuat yang dekat menjadi jauh dalam kenyataan. Sepertinya halnya televisi yang memungkinkan jutaan orang mendengarkan lawakan yang sama pada waktu yang sama, tetapi tetap merasa kesepian. Seberapa pun bagus dan nyatanya emoticon di sosial media namun anda tak akan bisa mendapatkan pelukan dan ciuman di internet.
John Cacioppo dan Gary Berntson pada tahun 1990-an menawarkan sebuah perspektif baru yang dikenal sebagai Ilmu saraf sosial. Dewasa ini, Cacioppo menambahkan, kita bisa memahami bagaimana otak menggerakkan perilaku sosial dan pada gilirannya bagaimana dunia sosial kita memengaruhi otak dan biologi kita.
Cerdas secara sosial adalah konsep yang ditawarkan penulis dalam mengatasi autisme sosial.

ILMU SARAF SOSIAL
Sekelompok neuron yang baru saja ditemukan, sel spindel, bertindak paling cepat, memandu keputusan sosial yang secepat kilat bagi kita dan telah terbukti lebih banyak terdapat di otak manusia daripada spesies apa pun.
Suatu variases sel-sel otak yang berbeda, yaitu neuron-neuron cermin, merasakan gerakan yang akan dilakukan orang lain dan merasakan perasaan mereka serta secara instan mempersiapkan kita untuk meniru gerakan itu dan merasakan bersama mereka.
Ketika mata seorang perempuan yang menarik hati seorang pria melihat langsungkepada pria tersebut, otak pria itu mengeluarkan zat kimia dopamin yang membangkitkan rasa senang-namun hal ini tidak terjadi ketika perempuan ini menoleh ke arah lain.
Ilmu saraf sosial pertama kali digunakan pada tahun 1990-an oleh psikolog John Cacioppo dan Gary Berntson, yang kala itu adalah perintis-perintis yang berjuang sendiri demi ilmu yang baru dan berani ini. dewasa ini, Cacioppo menambahkan, kita bisa memahami bagaimana otak menggerakkan perilaku sosial dan pada gilirannya bagaimana dunia sosial kita memengaruhi otak dan biologi kita. Beberapa penelitian awal Cacioppo mengungkapkan adanya kaitan antara terlibatnya seseorang dalam relasi negatif dan lonjakan hormon stres ke tingkat yang merusak gen-gen tertentu yang mengendalikansel-sel pelawan virus. Bagian yang hilang dalam hubungan itu adalah jalan saraf yang bisa mengubah masalah dalam hubungan dengan orang lain menjadi konsekuensi-konsekuensi biologis, hal inilah salah satu fokus ilmu saraf sosial.


Selasa, 26 Juli 2016

Bergerak Tanpa Makna

BERGERAK TANPA MAKNA
 Oleh : Sulessana
Jika hati tak lagi bergejolak, kapan keadilan itu kujumpai
Jika hati hanya diam, jika mulut tak lagi bersuara,  jika suara tak lagi terdengar, dari mana kan kudengar negeriku menumbuhkan konglomerat dan mengikis habis kaum melarat.
Jika mata tak lagi  tertutup, bagaimana kumemimpikan negeriku yang begitu subur?
Sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan gandum
Tapi juga pabrik, tempat rekreasi dan gedung-gedung pencakar langit. Burung-burung indah piaraan orang-orang kaya dunia berasal dari hutanku. Ikan-ikan pilihan yang mereka santap bermula dari lautku, emas perak dan perhiasan mereka digali dari tambangku, air bersih yang mereka minum bersumber dari keringatku.
Jika kata tak lagi bermakna, bagaiamana kumelukiskan kemakmuran negeriku?
Rakyat-rakyat kecil menyumbang negara tanpa imbalan, hukum tercipta atas kesepakatan orang-orang berduit, tikus dan kucing dengan asyik berkolusi.
Apakah ini kebodohan? Apakah ini keadilan? Atau apakah ini sebuah takdir?
Negeri tempat orang biadab tersenyum, para tikus busuk berkompromi, dan dipenuhi orang pintar yang krisis akan iman....ahahahaha
Sekarang kita tersenyum, besok kita tertawa, tapi lusa kita menangis, meratapi negeri yang krisis akan moral.
Jangan, jangan, jangan biarkan indonesia tanpa makna.